SEKOLAHNYA MANUSIA (REPUBLISH)

SEKOLAHNYA MANUSIA (REPUBLISH)

LEARNING
Penerbit  :  PASTEL
Penulis  :  MUNIF CHATIB

Banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Dan, justru merekalah yang dituduh “bermasalah”. Ternyata, ini hanya masalah ketidaksesuaian gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Padahal, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman sebagai konsultan pendidikan dan distance learning-nya dengan Bobbi DePorter sang tokoh Quantum Learning,...

Rp. 105,000

*Harga belum termasuk diskon reseller.

Stok: Untuk membeli produk ini harus menjadi RESELLER terlebih dahulu

Deskripsi Produk

Banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Dan, justru merekalah yang dituduh “bermasalah”. Ternyata, ini hanya masalah ketidaksesuaian gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Padahal, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman sebagai konsultan pendidikan dan distance learning-nya dengan Bobbi DePorter sang tokoh Quantum Learning, Munif Chatib memaparkan dengan mudah, jelas, dan ringan:
-Penerapan Multiple Intelligences (MI) sejatinya.
Penerimaan siswa baru tanpa tes, tetapi melalui metode MIR (Multiple Intelligences Research).
Bagaimana melejitkan setiap siswa sesuai kecerdasan uniknya.
Bagaimana menjadikan pembelajaran menyenangkan, menarik, dan memotivasi dengan MIS (Multiple Intelligences System).
Bagaimana membuat guru semakin kreatif dengan lesson plan-nya.
Bagaimana mengubah orangtua semakin memahami anak-anaknya.
Bagaimana membuat sekolah benar-benar unggul.
- Dan, kisah-kisah nyata mereka yang mengalami pencerahan dari MI.


Dengan demikian, terciptalah sebuah sekolah yang dalam proses belajarnya:
- Guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas.
Para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik.
Di dalam kelas dan pembelajaran, suasananya selalu hidup.

Saat keluar dari kelas, semua siswa mendapatkan pengalaman pertama yang luar biasa dan takkan terlupakan.




Prakata


Membangun sekolah, hakikatnya, adalah membangun keunggulan sumber daya manusia. Sayangnya, banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Buku ini saya beri judul SEKOLAHNYA MANUSIA, sebab setelah diteliti, banyak sekali sekolah di negeri ini yang berpredikat SEKOLAH ROBOT; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. SEKOLAH MANUSIA adalah sekolah berbasis MI (multiple intelligences), yaitu sekolah yang menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa.
Pada Bab 1, saya banyak menceritakan special moment, saat-saat istimewa, yaitu pengalaman dalam proses pembelajaran ketika seorang guru menemukan saat-saat yang berkesan dalam pekerjaannya. Sebuah aktivitas belajar yang mampu mengubah kesulitan pemahaman seorang siswa karena beberapa hal, menjadi mudah, dan akhirnya siswa tersebut bisa memahami dengan baik materi yang diajarkan.
Tentunya mendapatkan special moment bukanlah hal yang mudah. Mungkin setelah puluhan cara dicoba, barulah terjadi koneksi yang berarti antara guru, materi, dan siswa yang mulanya dianggap lebih. Proses demikian saya sebut discovering ability. Dari peristiwa-peristiwa spesial tersebut, saya tambah yakin bahwa sebenarnya tidak ada siswa yang bodoh apabila guru melayani gaya belajarnya.
Pada Bab 2, saya menjelaskan teori multiple intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner sebagai landasan teori. Beberapa hal yang saya tekankan pada bagian ini adalah keberanian Gardner melakukan redefinisi tentang kecerdasan. Kecerdasan tidak dapat dinilai dan dibatasi pada tes-tes formal belaka. Masyarakat dan sebagian unsur sekolah memang masih menerima keberadaan tes formal dengan terlalu berlebihan. Sampai-sampai, kesuksesan anak ditentukan dari hasil tes-tes bidang studi yang didapat siswa. Hasil baik, maka esok anak akan sukses. Sebaliknya, esok anak kita akan menderita jika hasil tesnya sekarang kurang baik.
Ketika multiple intelligences diterapkan di sekolah, muncullah banyak kendala dan beragam penafsiran tentang sekolah model ini. Misalnya, pemahaman yang salah tentang makna sekolah unggul di Indonesia, desain kurikulum yang masih sentralistis, penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi hasil akhir pendidikan, kualitas guru yang masih kurang terutama saat dihadapkan pada proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi, proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuan kognitif yang terbesar, serta masih belum menggunakan penilaian autentik secara komprehensif.
Pada Bab 3, saya menjelaskan indikator sekolah unggul dengan pernyataan sekolah unggul adalah the best process dan bukan the best input. Artinya, sekolah unggul harus menerima siswa dalam kondisi kognitif yang beragam; tidak harus menerima siswa yang pandai-pandai.
Dalam bab ini, saya mengenalkan secara global alat riset yang bernama MIR (Multiple Intelligences Research). MIR digunakan pada saat penerimaan siswa baru dan setiap tahun kenaikan jenjang. Hasil MIR membantu guru mendekatkan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa.
Pada Bab 4, saya menceritakan strategi pembelajaran dengan multiple intelligences (MI). Awal penjelasan adalah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, yaitu multiple intelligences bukanlah bidang studi. Juga, bukan kurikulum. MI adalah strategi pembelajaran yang berisi aktivitas-aktivitas pembelajaran dengan model dan kreativitas yang beragam. Sekaligus saya ceritakan pula bagaimana merancang strategi ini dalam sebuah rencana belajar.
Pada Bab 5, dibahas tentang proses akhir pembelajaran, yaitu penilaian dan pelaporan. Penilaian yang dipakai dalam melihat kompetensi siswa setelah memenuhi indikator hasil belajar yang sudah ditentukan adalah penilaian autentik. Penilaian ini bersumber dari aktivitas pembelajar yang dapat dinilai dalam ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Penjelasan detail tentang bagaimana cara menilai dan bentuk laporannya dibahas dalam bab ini.

Munif Chatib

 

">

Banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Dan, justru merekalah yang dituduh “bermasalah”. Ternyata, ini hanya masalah ketidaksesuaian gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Padahal, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman sebagai konsultan pendidikan dan distance learning-nya dengan Bobbi DePorter sang tokoh Quantum Learning, Munif Chatib memaparkan dengan mudah, jelas, dan ringan:
-Penerapan Multiple Intelligences (MI) sejatinya.
Penerimaan siswa baru tanpa tes, tetapi melalui metode MIR (Multiple Intelligences Research).
Bagaimana melejitkan setiap siswa sesuai kecerdasan uniknya.
Bagaimana menjadikan pembelajaran menyenangkan, menarik, dan memotivasi dengan MIS (Multiple Intelligences System).
Bagaimana membuat guru semakin kreatif dengan lesson plan-nya.
Bagaimana mengubah orangtua semakin memahami anak-anaknya.
Bagaimana membuat sekolah benar-benar unggul.
- Dan, kisah-kisah nyata mereka yang mengalami pencerahan dari MI.


Dengan demikian, terciptalah sebuah sekolah yang dalam proses belajarnya:
- Guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas.
Para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik.
Di dalam kelas dan pembelajaran, suasananya selalu hidup.

Saat keluar dari kelas, semua siswa mendapatkan pengalaman pertama yang luar biasa dan takkan terlupakan.




Prakata


Membangun sekolah, hakikatnya, adalah membangun keunggulan sumber daya manusia. Sayangnya, banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Buku ini saya beri judul SEKOLAHNYA MANUSIA, sebab setelah diteliti, banyak sekali sekolah di negeri ini yang berpredikat SEKOLAH ROBOT; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. SEKOLAH MANUSIA adalah sekolah berbasis MI (multiple intelligences), yaitu sekolah yang menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa.
Pada Bab 1, saya banyak menceritakan special moment, saat-saat istimewa, yaitu pengalaman dalam proses pembelajaran ketika seorang guru menemukan saat-saat yang berkesan dalam pekerjaannya. Sebuah aktivitas belajar yang mampu mengubah kesulitan pemahaman seorang siswa karena beberapa hal, menjadi mudah, dan akhirnya siswa tersebut bisa memahami dengan baik materi yang diajarkan.
Tentunya mendapatkan special moment bukanlah hal yang mudah. Mungkin setelah puluhan cara dicoba, barulah terjadi koneksi yang berarti antara guru, materi, dan siswa yang mulanya dianggap lebih. Proses demikian saya sebut discovering ability. Dari peristiwa-peristiwa spesial tersebut, saya tambah yakin bahwa sebenarnya tidak ada siswa yang bodoh apabila guru melayani gaya belajarnya.
Pada Bab 2, saya menjelaskan teori multiple intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner sebagai landasan teori. Beberapa hal yang saya tekankan pada bagian ini adalah keberanian Gardner melakukan redefinisi tentang kecerdasan. Kecerdasan tidak dapat dinilai dan dibatasi pada tes-tes formal belaka. Masyarakat dan sebagian unsur sekolah memang masih menerima keberadaan tes formal dengan terlalu berlebihan. Sampai-sampai, kesuksesan anak ditentukan dari hasil tes-tes bidang studi yang didapat siswa. Hasil baik, maka esok anak akan sukses. Sebaliknya, esok anak kita akan menderita jika hasil tesnya sekarang kurang baik.
Ketika multiple intelligences diterapkan di sekolah, muncullah banyak kendala dan beragam penafsiran tentang sekolah model ini. Misalnya, pemahaman yang salah tentang makna sekolah unggul di Indonesia, desain kurikulum yang masih sentralistis, penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi hasil akhir pendidikan, kualitas guru yang masih kurang terutama saat dihadapkan pada proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi, proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuan kognitif yang terbesar, serta masih belum menggunakan penilaian autentik secara komprehensif.
Pada Bab 3, saya menjelaskan indikator sekolah unggul dengan pernyataan sekolah unggul adalah the best process dan bukan the best input. Artinya, sekolah unggul harus menerima siswa dalam kondisi kognitif yang beragam; tidak harus menerima siswa yang pandai-pandai.
Dalam bab ini, saya mengenalkan secara global alat riset yang bernama MIR (Multiple Intelligences Research). MIR digunakan pada saat penerimaan siswa baru dan setiap tahun kenaikan jenjang. Hasil MIR membantu guru mendekatkan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa.
Pada Bab 4, saya menceritakan strategi pembelajaran dengan multiple intelligences (MI). Awal penjelasan adalah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, yaitu multiple intelligences bukanlah bidang studi. Juga, bukan kurikulum. MI adalah strategi pembelajaran yang berisi aktivitas-aktivitas pembelajaran dengan model dan kreativitas yang beragam. Sekaligus saya ceritakan pula bagaimana merancang strategi ini dalam sebuah rencana belajar.
Pada Bab 5, dibahas tentang proses akhir pembelajaran, yaitu penilaian dan pelaporan. Penilaian yang dipakai dalam melihat kompetensi siswa setelah memenuhi indikator hasil belajar yang sudah ditentukan adalah penilaian autentik. Penilaian ini bersumber dari aktivitas pembelajar yang dapat dinilai dalam ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Penjelasan detail tentang bagaimana cara menilai dan bentuk laporannya dibahas dalam bab ini.

Munif Chatib

Spesifikasi Produk

SKU  :  AA-97
ISBN  :  9786024870034
Berat  :  280 gram
Dimensi (P/L/T)  :  19 cm/ 24 cm/ 1 cm
Halaman  :  196
Tahun Terbit  :  519
Jenis Cover  :  Soft Cover